MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
Manusia
Pengertian manusia
Secara bahasa manusia berasal dari
kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir,
berakal budi atau makhluk ang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain).
Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan
atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu.
Berikut ini adalah pengertian dan
definisi manusia menurut beberapa ahli :
·
NICOLAUS D. & A.
SUDIARJA :
Manusia adalah
bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan rohani akan
tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang.
·
ABINENO J. I :
Manusia adalah
“tubuh yang berjiwa” dan bukan “jiwa abadi yang berada atau yang terbungkus
dalam tubuh yang fana”.
·
UPANISADS :
Manusia adalah
kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana atau badan
fisik.
·
SOKRATES :
Manusia adalah
mahluk hidup berkaki dua yang tidak berbulu dengan kuku datar dan lebar.
·
KEES BERTENS :
Manusia adalah
suatu mahluk yang terdiri dari 2 unsur yang kesatuannya tidak dinyatakan.
·
I WAYAN WATRA :
Manusia adalah
mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa dan karsa.
·
OMAR MOHAMMAD
AL-TOUMY AL-SYAIBANY :
Manusia adalah
mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir, dan manusia
adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusia dalam
pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan.
·
ERBE SENTANU :
Manusia adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dibilang manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lain.
Manusia adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dibilang manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lain.
·
PAULA J. C &
JANET W. K :
Manusia adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam situasi, mengemban tanggung jawab atas keputusan yang hidup secara kontinu serta turut menyusun pola berhubungan dan unggul multidimensi dengan berbagai kemungkinan.
Manusia adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam situasi, mengemban tanggung jawab atas keputusan yang hidup secara kontinu serta turut menyusun pola berhubungan dan unggul multidimensi dengan berbagai kemungkinan.
Manusia
adalah makhluk hidup ciptaan tuhan dengan segala fungsi dan potensinya yang
tunduk kepada aturan hukum alam, mengalami kelahiran, pertumbuhan,
perkembangan, mati, dan seterusnya, serta terkait dan berinteraksi dengan alam
dan lingkungannya dalam sebuah hubungan timbal balik positif maupun negatif.
Manusia adalah makhluk yang terbukti berteknologi tinggi. Ini karena manusia memiliki perbandingan massa otak dengan massa tubuh terbesar diantara semua makhluk yang ada di bumi. Walaupun ini bukanlah pengukuran yang mutlak, namun perbandingan massa otak dengan tubuh manusia memang memberikan petunjuk dari segi intelektual relatif.
Manusia atau orang dapat diartikan dari sudut pandang yang berbeda-beda, baik itu menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai homo sapiens (bahasa latin untuk manusia) yang merupakan sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.
Manusia adalah makhluk yang terbukti berteknologi tinggi. Ini karena manusia memiliki perbandingan massa otak dengan massa tubuh terbesar diantara semua makhluk yang ada di bumi. Walaupun ini bukanlah pengukuran yang mutlak, namun perbandingan massa otak dengan tubuh manusia memang memberikan petunjuk dari segi intelektual relatif.
Manusia atau orang dapat diartikan dari sudut pandang yang berbeda-beda, baik itu menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai homo sapiens (bahasa latin untuk manusia) yang merupakan sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.
Manusia
juga sebagai mahkluk individu memiliki pemikiran-pemikiran tentang apa yang
menurutnya baik dan sesuai dengan tindakan-tindakan yang akan diambil. Manusia
pun berlaku sebagai makhluk sosial yang saling berhubungan dan keterkaitannya
dengan lingkungan dan tempat tinggalnya.
Manusia di alam dunia ini memegang
peranan yang unik.Dan dapat di pandang dari banyak segi.Dalam ilmu eksakta,
manusia dipandang sebagai kumpulan dari partikel-partikel atom yang membentuk
jaringan-jaringan sistem yang dimiliki oleh manusia (ilmu kimia). Manusia
merupakan kumpulan dari berbagai sistem fisik yang saling terkait satu sama
lain dan merupakan kumpulan dari energy (ilmu fisika). Manusia merupakan
mahkluk biologis yang tergolong dalam golongan mahkluk mamalia (biologi).Dalam
ilmu-ilmu sosial manusia merupakan mahkluk yang ingin memperoleh keuntungan
atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan, sering disebut homo economicus
(ilmu ekonomi). Manusia merupakan mahkluk sosial yang tidak dapat berdiri
sendiri(sosiologi).mahkluk yang selalu ingin mempunyai kekuasaan (politik),
mahkluk yang berbudaya, sering disebut homo-humanus (filsafat) dan lain
sebagainya.
Ada dua pandangan yang akan kita
jadikan acuan untuk menjelaskan tentang unsur-unsur yang membangun manusia :
1)
Manusia terdiri dari empat unsur yang saling
terkait, yaitu :
a. jasad
badan kasar manusia yang Nampak pada
luarnya, dapat diraba dan difoto, dan menempati ruang dan waktu.
b.
hayat
mengandung unsur hidup, yang ditandai
dengan gerak.
c. ruh
bimbingan dan pimpinan Tuhan, daya
yang bekerja secara spiritual dan memahami kebenaran, suatu kemampuan pencipta
yang bersifat konseptual yang jadi pusat lahirnya kebudayaan.
d. nafs
kesadaran tentang diri sendiri.
2)
Manusia sebagai satu kepribadian mengandung
tiga unsur, yaitu :
a. Id
yang merupakan struktur kepribaadian
yang paling primitif dan paling tidak
nampak. Id merupakan libido murni, atau energy psikis yang menunjukan cirri
alami yang irrasional dan terkait dengan sex, yang secara instingtual
menentukan proses-proses ketidaksadaran (unconcius). Id tidak berhubungan
dengan lingkungan luar diri, tetapi terkait dengan struktur lain kepribadian
yang pada gilirannya menjadi mediator antara insting Id dengan dunia luar.
b. Ego
merupakan bagian
atau struktur kepribadian yang pertama kali di bedakan dari Id, sering kali
disebut sebagai kepribadian “eksekutif” karena perannya dalam menghubungkan
energy Id kedalam saluran sosial yng dapat dimengerti oleh oaring lain.
Perkembangan ego terjadi antara usia satu dan dua tahun, pada saat anak secara
nyata berhubungan dengan lingkungannya. Ego diatur oleh prinsip realitas, ego
sadar akan tuntunan lingkungan luar, dan mengatur tingkah lau sehingga dorongan
instingtual Id dapat dipuaskan dengan cara yang dapat diterima.
c. Super ego
merupakan
struktur kepribadian yang paling akhir, muncul kira-kira pada usia 5 tahun.
Dibandingan dengan Id dan Ego, yang berkembang secara internal dalam diri
individu, superego terbentuk dari lingkungan eksternal.Jadi superego merupakan
kesatuan standar-standar moral yang diterima oleh ego dari sejumlah agen yang
mempunyai otoritas di dalam lingkungan luar diri.
Hakekat Manusia
a.
Mahkluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh
dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
Tumbuh adalah
materi yang dapat dilihat, diraba, dirasa, wujudnya konkrit tetapi tidak
abadi.Jika manusia itu meninggal, tubunhnya hancur dan lenyap. Jiwa terdapat di
dalam tubuh, tidak dapat dilihat,tidak dapat diraba, sifatnya abstrak tetapi
abadi, jika manusia meninggal jiwanya lepas dari tubuh dan kembali keasalnya
yaitu Tuhan, dan jiwa tidak mengalami kehancuran. Jiwa adalah roh yang ada di
dalam tubuh manusia sebagai peenggerak dan sumber kehidupan.
b.
Mahkluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna,
jika dibandingkan dengan mahkluk lainnya.
Kesempurnaan
terletak pada abad dankebudayaannya, karena manusia dilengkapi oleh
penciptannya dengan akal, perasaan, dan kehendak yang terdapat dalam jiwa
manusia.Dengan akal (ratio) manusia mampu menciptakan ilmu pengetahuan dan
teknologi.Adanya nilai baik dan buruk, mengharuskan manusia dan
mempertimbangkan, menilai dan berkehendakmenciptakan kebenaran, keindahan,
kebaikan atau sebaliknya.Selanjutnya dengan adanya perasaan, manusia mampu
menciptakan kesenian. Perasaan rohani adalah perasaan luhur yang hanya terdapat
pada manusia misalnya :
1.
Perasaan intelektual, yaitu perasaan yang
berkenan dengan pengetahua.
2.
Perasaan estetis, yaitu perasaan yang berkenan
dengan keindahan.
3.
Perasaan etis, yaitu perasaan yang berkenan
dengan kebaikan.
4.
Perasaan diri, yaitu perasaan yang berkeknan
dengan harga diri karena ada kelebihan dari yang lain.
5.
Perasaan sosial, yaitu perasaan yang berkenan
dengan kelompok atau korp atau hidup bermasyarakat, ikut merasakan kehidupan
orang lain.
6.
Perasaan religius, yaitu perasaan yang berkenan
dengan agama atau kepercayaan.
c.
Mahkluk biokultural (mahkluk hayati dan
budayawi)
Manusia adalah
produk dari saling tindak atu interaksi faktor-faktor hayati dan budayawi.
Swebagai mahkluk hayati, manusia dapat dipelajari dari segi-segi anatomi, fisiologi
atau faal, biokimia, psikobiologi, patalogi, genetika, biodemografi, evolusi
biologisnya, dan kemasyarakatannya, kekerabatan, psikologi sosial, kesenian,
ekonomi, perkakas,bahasa, dan sebagainya.
Manusia sebagai makhluk yang berbudaya tidak lain adalah makhluk yang
senantiasa mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, karena
yang membahagiakan hidup manusia itu hakikatnya sesuatu yang baik, benar dan
adil, maka hanya manusia yang selalu berusaha menciptakan kebaikan, kebenaran
dan keadilan sajalah yang berhak menyandang gelar manusia berbudaya .
Manusia
memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari makhluk lainnya, manusia juga
memiliki akal yang dapat memperhitungkan tindakannya melalui proses belajar
yang terus-menerus. Oleh karena itu manusia harus bersosialisasi dengan
lingkungan, yang merupakan pendidikan awal dalam suatu interaksi
sosial. Hal ini menjadikan manusia harus memiliki ilmu pengetahuan yang
berlandaskan ketuhanan. Karena dengan ilmu tersebut manusia dapat
membedakan antara yang hak dengan yang bukan hak, antara kewajiban dan yang
bukan kewajiban. Sehingga norma-norma dalam lingkungan berjalan dengan
harmonis dan seimbang. Agar hasil dari pendidikan, yakni kebudayaan dapat
diimplementasikan dimasyaakat.
Pendidikan
sebagai hasil kebudayaan haruslah dipandang sebagai motivator terwujudnya
budaya yang tinggi. Selain itu pendidikan haruslah memberikan kontribusi
terhadap kebudayaan, agar kebudayaan yang dihasilkan memberi nilai manfaat bagi
manusia itu sendiri khususnya maupun bagi bangsa pada umumnya.
Dengan
demikian dapat kita katakan bahwa kualitas manusia pada suatu Negara akan
menentukan kualitas kebudayaan dari suatu Negara tersebut, begitu pila
pendidikan yang tinggi akan menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Karena
kebudayaan adalah hasil dari pendidikan suatu bangsa.
Filsafat manusia
Filsafat
manusia atau antropologi filsafati adalah bagian integral dari system filsafat,
yang secar spsesifik menyoroti hakikat atau esensi manusia. Sebagai bagian dari
system filsafat, secara metodis ia mempunyai kedudukan yang kurang lebih setara
dengan cabang-cabang filsafat lainnya, seperti etika, kosmologi, epistimologi,
filsafat sosial, dan estetika. Tetapi secara ontologism (berdasarkan pada objek
kajiannya), ia mempunyai kedudukan yang relative lebih penting, karena semua
cabang filsafat tersebut pada prinsipnya bermuara pada persoalan asasi mengenai
esensi manusia, yang tidak lain merupakan persoalan yang secara spesifik
menjadi objek kajian filsafat manusia.
Dibandingkan
dengan ilmu-ilmu tentang manusia (human studies), filsafat manusia mempunyai
kedudukan yang kurang lebih “sejajar” juga, terutama kalau dilihat dari objek
materialnya.Objek material filsafat manusia dan ilmu-ilmu tentang manusia
(misalnya antropologi dan psikologi) adalah gejala manusia.Baik filsafat
manusia maupun ilmu-ilmu tentang manusia, pada dasarnya bertujuan untuk
menyelidiki, menginterpretasi, dan memahami gejala-gejala atau
ekspresi-ekspresi manusia.Ini berarti bahwa gejala atau ekspresi manusia, baik
merupakan objek kajian untuk filsafat manusia maupun untuk ilmu-ilmu tentang
manusia.
Akan tetapi,
ditinjau dari objek formal atau metodenya, kedua jenis “ilmu” tersebut memiliki
perbedaan yang sangat mendasar.Secara umumdapat dikatakan, bahwa setiap cabang
ilmu-ilmu tentang manusia mendasarkan penyelidikannya pada gejala empiris, yang
bersifat “objektif’ dan bisa diukur dan gejala itu kemudian diselidiki dengan
menggunakan metode yang bersifat observasional dan/atau
eksperimental.Sebaliknya, filsafat manusia tidak membatasi diri pada gejala
empris.Bentuk atau jenis gejala apapun pada manusia, sejauh bisa dipikirkan,
dan memungkinkan untuk dipikirkan secara rasional, bisa menjadi bahan kajian
filsfat manusia.Aspek-aspek, dimensi-dimensi, atau nilai-nilai yang bersifat
metafisis, spiritual, dan universal dari manusia, yang tidak bisa diobservasi
dan diukur melalui metode-metode keilmuan, bisa mnejdai bahan kajian terpenting
bagi filsafat manusia.Aspek-aspek, dimensi-dimensi, atau nilai-nilai tersebut
merupakan sesuatu yang hendak dipikirkan, dipahami, dan diungkap maknanya oleh
filsafat manusia.
Kepribadian Bangsa Timur
Kepribadian
Bangsa Timur merupakan suatu karakter yang mencerminkan masyarakat yang
menganut budaya dari Timur (Asia & Timur-Tengah), yang menunjukkan
ke-khasan dan pola pikir dan kebiasaan yang terdapat di daerah Timur.
Kepribadian bangsa timur pada umumnya tinggi. Dalam berdemokrasi bangsa timur
umumnya aktif dalam mengutarakan aspirasi rakyat.Seperti di negara Korea, dalam
berdemokrasi mereka duduk sambil memegang poster protes dan di negara Thailand,
mereka berdemokrasi dengan tertib dan damai.Kepribadian bangsa timur juga
identik dengan tutur kata yang lemah lembut dan sopan dalam bergaul maupun
dalam berpakaian.Terdapat ciri khas dalam berbagai negara yang mencerminkan
negara tersebut memiliki suatu kepribadian yang unik.Misalnya masyarakat
Indonesia khususnya daerah Jawa.Sebagian besar mereka bertutur kata dengan
lembut dan sopan.Dan terdapat beberapa aturan atau larangan yang tidak boleh
dilakukan menurut versi orang dulu yang sebenarnya menurut orang Jawa itu suatu
nasihat yang membangun. Misalnya tidak boleh duduk di depan pintu. Hal tersebut
merupakan ciri khas kepribadian yang unik.Bangsa timur juga memiliki kebudayaan
yang masih kental dari negara atau daerah masing-masing.Masih ada adat-adat
atau upacara tertentu yang masih dilaksanakan oleh bangsa timur.Misalnya bangsa
Indonesia masih banyak yang melaksanakan upacara-upacara adat dan tarian khas
dari masing-masing daerah.Contohnya daerah Bali yang masih melaksanakan tarian
khas daerahnya yaitu tarian pendet, kecak, tarian barong.
Kebudayaan
Definisi kebudayaaan
Budaya adalah
suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok
orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak
unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa,
perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.Bahasa, sebagaimana juga budaya,
merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang
cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.Ketika seseorang berusaha
berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan
perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah
suatu pola hidup menyeluruh.budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak
aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.Unsur-unsur sosio-budaya ini
tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan
mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya
lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit
nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan
atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk
berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika,
“keselarasan individu dengan alam” d Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina.Citra
budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali
anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan
dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling
bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian,
budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan
aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Pengertian Kebudayaan
kata Kebudayaan berasal darikata kultur yang dalam kata Latin
adalah cultura (kata kerjanya, colo,colore) dan artinya memelihara atau
mengerjakan, mengolah. Pengertianini berkembang menjelang abad 18 melalui
karangan Herder tentangsejarah semesta, Ideen zur Geschichte der Menscheit, dan
terutamakarangan Klem berjudul Allgemeine Culturgesschichte der Menscheit.Dalam
analisa kedua tokoh ini perkataan kultur atau kebudayaan dalamarti yang modern
mendapat arti tingkat kemajuan, yaitu tingkat pengerjaanatau pengolahan yang
dicapai manusia pada suatu ketika dalam perjalanansejarah.Lebih jauh Alisjahbana
menyebutkan bahwa terdapat 7 (tujuh)penggolongan defenisi kebudayaan, yakni
pertama menekankankenyataan, bahwa kebudayaan itu adalah suatu keseluruhan
yangkompleks, yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda seperti
pengetahuan,kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan segala
kecakapan yanglain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Kedua,menekankan sejarah kebudayaan, yang memandang kebudayaan sebagaiwarisan
sosial atau tradisi. Ketiga, menekankan segi kebudayaan yangnormatif, yakni
kebudayaan sebagai cara, aturan dan jalan hidup manusia. Disini juga ditekankan
cita-cita, nilai-nilai dan kelakukan. Keempat,pendekatan secara Psikologi,
kebudayaan sebagai penyesuaian manusiakepada sekitarnya. Dalam hal ini, Summer
dan Keller yang menekankanpenyesuaian manusia pada keadaan dan syarat-syarat
hidupnya.Sedangkan Kroeber dan Kluckhohn menekankan usaha belajar danpembiasaan
serta defenisi yang bersifat psikologi murni yang dirumuskandalam istilah
psiko-analisis dan psikologi sosial. Kelima, menekankan halhalyang bersifat
struktur yang membicarakan pola-pola dan organisasikebudayaan.Keenam,
kebudayaan dipahami sebagai hasil perbuatan ataukecerdasan manusia.Grover
merumuskan kebudayaan sebagai hasilpergaulan atau perkumpulan manusia.Dalam hal
ini juga ditekankanpikiran-pikiran dan lambang-lambang.Ketujuh merupakan
defenisidefenisiyang tidak lengkap dan tidak bersistem.Alisjahbana maupun
Koentjaraningrat mengakui bahwa banyaksekali defenisi-defenisi kebudayaan yang
mengacu pada suatu disiplinilmu tertentu, bukan saja antropologi, tetapi juga
sosiologi, filsafat, sejarahmaupun kesusasteraan.Berdasarkan ilmu Antroplogi,
Koentjaraningratmendefenisikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan,
tindakandan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yangdijadikan
milik diri manusia dengan belajar.
Kebudayaan
culture, dalam kata Sanskerta adalah buddhayah, dalambentuk jamak dari buddhi
yang berarti budi atau akal.Dengan demikian, kebudayaan dapat diartikan hal-hal
yang bersangkutan dengan akal, ataudaya dari budi.Zoetmulder juga melihat
kodrat manusia dengan akalbudinya merupakan titik tolak kebudayaan.Selanjutnya,
Soerjanto Poespowardojo dalam memaknai kebudayaanmenegaskan bahwa, Kebudayaan
adalah identitas suatu bangsa.Dengan demikian,jelaslah bahwa kebudayaan bukan
sekedar pakaian, melainkanhidup yang memolakan setiap sikap dan perbuatan
berdasarkannilai yang dihayati. Kebudayaan di satu pihak adalah
ciptaanpribadi-pribadi manusia, namun juga merupakan ciptaan seluruhmasyarakat,
karena seseorang tidak mungkin menciptakan karyabudayanya tanpa pengaruh dan
pembentukan dari masyarakat,dimana dia dibesarkan. Maka, kebudayaan adalah
keseluruhanwarisan yang dilanjutkan dari generasi yang satu ke
generasiseterusnya.Stephen K. Sanderson tidak melihat kebudayaan sebagai
pewarisansecara biologis, tetapi ”kebudayaan sebagai keseluruhan karakteristik
paraanggota sebuah masyarakat, termasuk peralatan, pengetahuan, dan
caraberpikir dan cara bertindak yang telah terpolakan, yang dipelajari
dandisebarkan serta bukan merupakan hasil dari pewarisan biologis.Sanderson
membagi empat karakteristik utama kebudayaan, pertama,kebudayaan mendasarkan
diri pada simbol. Simbol sangat esensial bagikebudayaan, karena ia merupakan
mekanisme yang diperlukan untukmenyimpan dan mentransmisikan sejumlah besar
informasi yangmembentuk kebudayaan. Kedua, kebudayaan itu dipelajari dan
tidaktergantung kepada pewarisan biologis dalam transmisinya. Ketiga,kebudayaan
adalah sistem yang dipikul bersama oleh anggota suatu masyarakat, yakniia
merupakan representasi dari para anggotamasyarakat yang dipandang secara
kolektif daripada individual.
Unsur-Unsur Kebudayaan
Unsur Kebudayaan
adalah istilah lain dari komponen-komponen pokok yang menjadi
pembentuk suatu kebudayaan.Apakah kebudayaan itu? Kebudayaan secara garis
besar dapat di definisikan sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang
dilakukan secara sadar dalam kehidupan masyarakat.
ü Cipta adalah
kemampuan akal pikiran yang menghasilkan ilmupengetahuan
ü Rasa adalah
kemampuan indra yang mendorong manusia unuk mengembangkan rasa keindahan yang
melahirkan karya-karya seni yang agung
ü Karsa adalah
kehendak manusia terhadap adanya kesempurnaan hidup, kemuliaan dan kebahagiaan
Berdasarkan pengertian dan
definisi diatas tentang kebudayaan, maka dapat diketahui bahwa secara umum
kebudayaan memiliki 7 unsur penting yang menjadi komponen pokok pembentuk
kebudayaan, yaitu:
1. Unsur
peralatan dan erlengkapan hidup, seperti: rumah, pakaian, kendaraan, dll.
2. Unsur
mata pencaharian / perekonomian, seperti pegawai, petani, buruh, dll.
3. Unsur
sistem kemasyarakatan, yang meliputi: hukum, kekerabatan, perkawinan, dll.
4. Unsur
bahasa baik lisan maupun tulisan yang berfungsi sebagai alat komunikasi.
5. Unsur
Kesenian, seperti seni tari, seni musik , seni rupa, dll.
6. unsur
ilmu pengetahuan dan teknologi.
7. Unsur
agama dan kepercayaan.
Wujud Kebudayaan
Menurut
J.J. Hoenigman (dalam Koentjaraningrat, 1986), wujud kebudayaan dibedakan
menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
1. Gagasan
(Wujud ideal) Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan
ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang
sifatnya abstrak ; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini
terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika
masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka
lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil
karya para penulis warga masyarakat tersebut.
2. Aktivitas
(tindakan) Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola
dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem
sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling
berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut
pola-pola tertentu yang ber- dasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi
dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
3. Artefak
(karya) Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas,
perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau
hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling
konkret diantara ketiga wujudkebudayaan.
Pada kenyataannya, kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia. Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama, yaitu kebudayaan material dan kebudayaan non- material. Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci. Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
Pada kenyataannya, kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia. Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama, yaitu kebudayaan material dan kebudayaan non- material. Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci. Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
Orientasi Nilai Budaya
Marilah kita
menyadari, kebudayaan bukanlah kreasionisme.Kebudayaan melakukan banyak
penyimpangan dari desain besar yang ingin mengendalikannya.Sudah saatnya
menganggap selesai perdebatan tentang orientasi utama dan bentuk terakhir
kebudayaan Indonesia.Setiap orang secara potensia ladalah pencipta kebudayaan.
(NIRWAN DEWANTO, Senjakala Kebudayaan, Yayasan Bentang Budaya 1996)
Dari pernyataan tersebut di atas, sesungguhnya kita sedang digugah untuk menyadari bahwa desain besar kebudayaan kita sedang dalam kondisi kritis.Sebagai contoh, kebudayaan tradisional yang agung (High Culture) telah terkalahkan oleh budaya modern (Dinamice Culture) yang didukung oleh sains dan teknologi.Kebudayaan yang mendunia (baca globalisasi) sekarang pun terbukti mengalami krisis karena telah gagal mensejahterakan masyarakat secara umum.Kebudayaan modern, meskipun telah banyak kemajuan di bidang sains dan teknologi, namun secara ekonomi hanya menguntungkan pihak tertentu saja, dalam hal ini kapitalislah yang diuntungkan sebagai produsen dan pemilik sumber kebudayaan modern yang cenderung mempengaruhi dan mengusai kebudayaan dunia.
(NIRWAN DEWANTO, Senjakala Kebudayaan, Yayasan Bentang Budaya 1996)
Dari pernyataan tersebut di atas, sesungguhnya kita sedang digugah untuk menyadari bahwa desain besar kebudayaan kita sedang dalam kondisi kritis.Sebagai contoh, kebudayaan tradisional yang agung (High Culture) telah terkalahkan oleh budaya modern (Dinamice Culture) yang didukung oleh sains dan teknologi.Kebudayaan yang mendunia (baca globalisasi) sekarang pun terbukti mengalami krisis karena telah gagal mensejahterakan masyarakat secara umum.Kebudayaan modern, meskipun telah banyak kemajuan di bidang sains dan teknologi, namun secara ekonomi hanya menguntungkan pihak tertentu saja, dalam hal ini kapitalislah yang diuntungkan sebagai produsen dan pemilik sumber kebudayaan modern yang cenderung mempengaruhi dan mengusai kebudayaan dunia.
Maka
menjadi wajar kebudayaan modern melahirkan kebudayaan destrukrif misalnya
berupa demonstrasi, bahkan anarkis menjadi bagian kebudayaan orang-orang yang
merasa dirugikan (contoh : demo buruh dan karyawan menuntut perbaikan upah
untuk memenuhi kebutuhan kesejahteraannya). Kesejahteraan buruh sangat
ditentukan oleh kepemilikan kapital (kebudayaan materialisme).Maka peran pemerintah
sebagai penentu kebudayaan yang seharusnya mensejahterakan rakyat menjadi
bergeser sebagai penjaga keamanan, ujung-ujungnya demi capital juga pemerintah
melakukan represi dan penindasan kepada rakyat yang tidak menguntungkan
kebijakannya. Pemerintah menjadi agen bagi pemilik modal raksasa (baca: ekonomi
sebagai panglima), misalnya dalam kasus Freeport dan masyarakat Timika yang
terbelakang pendidikannya.
PendidikanPasarParadigma
kebudayaan modern telah menjadikan dunia spiritual termasuk seni dan agama cukup
sebagai komoditi yang perlu diperhitungkan dengan nilai harga
jualnya.Pendidikan mahal menjadi keniscayaan karena kebutuhan sarana dan
prasarana menjadi penting, termasuk pula teknologi pendidikan menjadi ukuran
kualitas lembaga pendidikan yang mendunia.Keberhasilan transformasi ilmu guru
kepada murid juga diukur dari penguasaan peralatan mengajar yang digunakan
gurunya.
”Globalisaasi”, Dulu
notebook bermakna buku sekarang bermakna laptop, artinya teknologi telah mampu
merubah makna kata dari pemahaman konsumennya.Pemahaman konsumen ternyata mudah
dibentuk oleh produsen atau bahasa lokal telah dikalahkan oleh bahasa global.
Dalam konteks kebudayaan, bahasa Indonesia telah tercerabut dari akarnya
danselanjutnya image kepada guru yang tidak menguasai teknologi dianggap
ketinggalan, atau mungkin diragukan kemampuan mengajarnya. Maka sekolah atau
lembaga pendidikan harus mengeluarkan biaya ekstra untuk melatih guru-guru
menggunakan teknologi modern.yang belum tentu bisa, karena tidak memiliki
perangkat sendiri yang mahal harganya.Apalagi guru-guru “tradisi” Kebudayaan AlternatifNamun
untuk kembali ke tradisi sudah tidak mungkin lagi, kecuali mencari pijakan
kebudayaan pendidikan baru yang dinamis namun tidak bergantung pada biaya
tinggi.Pembelian produk teknologi yang berkembang cepat dan menuntut konsumen
untuk terus mengikuti, tentu saja berat kecuali Indonesia menjadi negara
produsen teknologi tinggi.Untuk ini kita tidak bisa percaya pada ramalan para
ahli globalisasi.Di dalam zaman kita ini, kenyataan bukanlah hal yang mudah
ditangkap.Kenyataan adalah fragmentasi dari kebudayaan yang telah
terbelah-belah oleh kekuatan ekonomi (mass culture).Dalam hal ini, selera pasar
menjadi penting untuk diperhitungkan lagi.Kesejahteraan guru haruslah dilihat
sebanding dan sejajar dengan pendapatan selebrities.Tujuan kebudayaan tak lain
untuk kemajuan dan kesejahteraan hidup manusia di mana saja dan sebagai apa
saja. (Surat kepercayaan gelanggang 1960: Kami adalah pewaris sah kebudayaan
dunia).
Pernyataan puitis
tersebut di atas, mempertegas bahwa posisi kebudayaan sesungguhnya berada pada
diri kita masing-masing sebagai pelaku (seleksi terhadap pengaruh asing dalam
lingkup “kebudayaan”).Kebudayaan saling-silang (baca kebudayaan tarik-ulur)
lalu melahirkan kebudayaan post-modern yang muncul dan kemudian dianggap gagal
karena merancukan keyakinan beragama bagi masyarakat (umat) penganutnya.
Perubahan Kebudayaan
Perubahan dirasakan oleh hampir semua manusia dalam
masyarakat.Perubahan dalam masyarakat tersebut wajar, mengingat manusia
memiliki kebutuhan yang tidak terbatas. Kalian akan dapat melihat perubahan itu
setelah membandingkan keadaan pada beberapa waktu lalu dengan keadaan sekarang.
Perubahan itu dapat terjadi di berbagai aspek kehidupan, seperti peralatan dan
perlengkapan hidup, mata pencaharian, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian,
sistem pengetahuan, serta religi/keyakinan.
Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya.Perubahan
dalam kebudayaan mencakup semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan,
teknologi, filsafat dan lainnya.Akan tetapi perubahan tersebut tidak
mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya.Ruang lingkup perubahan kebudayaan
lebih luas dibandingkan perubahan sosial.Namun demikian dalam prakteknya di
lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan
(Soekanto, 1990).
Perubahan kebudayaan bertitik tolak dan timbul dari organisasi
sosial.Pendapat tersebut dikembalikan pada pengertian masyarakat dan
kebudayaan. Masyarakat adalah sistem hubungan dalam arti hubungan antar
organisasi dan bukan hubungan antar sel. Kebudayaan mencakup segenap cara
berfikir dan bertingkah laku, yang timbul karena interaksi yang bersifat
komunikatif seperti menyampaikan buah pikiran secara simbolik dan bukan warisan
karena keturunan (Davis, 1960). Apabila diambil definisi kebudayaan menurut
Taylor dalam Soekanto (1990), kebudayaan merupakan kompleks yang mencakup
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat dan setiap
kemampuan serta kebiasaan manusia sebagai warga masyarakat, maka perubahan
kebudayaan dalah segala perubahan yang mencakup unsur-unsur tersebut.
Soemardjan (1982), mengemukakan bahwa perubahan sosial dan perubahan kebudayaan
mempunyai aspek yang sama yaitu keduanya bersangkut paut dengan suatu cara
penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara suatu masyarakat
memenuhi kebutuhannya.
Kebudayaan lokal Indonesia yang
sangat beranekaragam menjadi suatu kebanggaan sekaligus tantangan untuk
mempertahankan serta mewarisi kepada generasi selanjutnya.Budaya lokal
Indonesia sangat membanggakan karena memiliki keanekaragaman yang sangat
bervariasi serta memiliki keunikan tersendiri.Seiring berkembangnya zaman,
menimbulkan perubahan pola hidup masyakat yang lebih modern.Akibatnya,
masyarakat lebih memilih kebudayaan baru yang mungkin dinilai lebih praktis
dibandingkan dengan budaya lokal.
Banyak
faktor yang menyebabkan budaya lokal dilupakan dimasa sekarang ini, misalnya
masuknya budaya asing.Masuknya budaya asing ke suatu negara sebenarnya merupakan
hal yang wajar, asalkan budaya tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa.Namun
pada kenyataannya budaya asing mulai mendominasi sehingga budaya lokal mulai
dilupakan.
Faktor
lain yang menjadi masalah adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya
peranan budaya lokal. Budaya lokal adalah identitas bangsa. Sebagai identitas
bangsa, budaya lokal harus terus dijaga keaslian maupun kepemilikannya agar
tidak dapat diakui oleh negara lain. Walaupun demikian, tidak menutup
kemungkinan budaya asing masuk asalkan sesuai dengan kepribadian negara karena
suatu negara juga membutuhkan input-input dari negara lain yang akan
berpengaruh terhadap perkembangan di negranya.
Dimasa
sekarang ini banyak sekali budaya-budaya kita yang mulai menghilang sedikit
demi sedikit.Hal ini sangatlah berkaitan erat dngan masuknya budaya-budaya ke
dalam budaya kita.Sebagai contoh budaya dalam tata cara berpakaian.Dulunya
dalam budaya kita sangatlah mementingkan tata cara berpakaian yang sopan dan
tertutup.Akan tetapi akaibat masuknya budaya luar mengakibatkan budaya tersebut
berubah.Sekarang berpakaian yang menbuka aurat serasa sudah menjadi kebiasaan
yang sudah melekat erat didalam masyarakat kita.Sebagai contoh lain jenis-jenis
makanan yang kita konsumsi juga mulai terpengaruh budaya luar.Masyarakat
sekarang lebih memilih makanan-makanan yang berasal dari luar seperti
KFC,steak,burger,dan lain-lain.Masyarakat menganggap makanan-makanan tersebut
higinis,modern,dan praktis.Tanpa kita sadari makanan-makanan tersebut juga telah
menjadi menu keseharian dalam kehidupan kita.Hal ini mengakibatkan makin
langkanya berbagai jenis makanan tradisional.Bila hai ini terus terjadi maka
tak dapat dihindarkan bahwa anak cucu kita kelak tidak tahu akan jenis-jenis
makanan tradisional yang berasal dari daerah asal mereka.
Tugas
utama yang harus dibenahi adalah bagaimana mempertahankan, melestarikan,
menjaga, serta mewarisi budaya lokal dengan sebaik-baiknya agar dapat
memperkokoh budaya bangsa yang akan megharumkan nama Indonesia. Dan juga supaya
budaya asli negara kita tidak diklaim oleg negara lain.
Berikut
beberapa hal yang dapat kita simak dalam rangka melestarikan budaya.
1. Kekuatan
Indonesia
memiliki keanekaragaman budaya lokal yang dapatdijadikan sebagai ke aset yang
tidak dapat disamakan dengan budaya lokal negara lain. Budaya lokal yang
dimiliki Indonesia berbeda-beda pada setiap daerah.Tiap daerah memiliki ciri
khas budayanya, seperti rumah adat, pakaian adat, tarian, alat musik, ataupun
adat istiadat yang dianut.Semua itu dapat dijadikan kekuatan untuk dapat
memperkokoh ketahanan budaya bangsa dimata Internasional.
Kekhasan
budaya lokal yang dimiliki setiap daerah di Indonesia memliki kekuatan
tersediri.Misalnya rumah adat, pakaian adat, tarian, alat musik, ataupun adat
istiadat yang dianut. Kekhasan budaya lokal ini sering kali menarik pandangan
negara lain. Terbukti banyaknya turis asing yang mencoba mempelajari budaya
Indonesia seperti belajar tarian khas suat daerah atau mencari barang-barang
kerajinan untuk dijadikan buah tangan.Ini membuktikan bahwa budaya bangsa
Indonesia memiliki cirri khas yang unik.
Kesatuan
budaya lokal yang dimiliki Indonesia merupakan budaya bangsa yang mewakili
identitas negara Indonesia.Untuk itu, budaya lokal harus tetap dijaga serta
diwarisi dengan baik agar budaya bangsa tetap kokoh.
2. Kelemahan
Kesadaran
masyarakat untuk menjaga budaya lokal sekarang ini masih terbilang
minim.Masyarakat lebih memilih budaya asing yang lebih praktis dan sesuai
dengan perkembangan zaman.Hal ini bukan berarti budaya lokal tidak sesuai
dengan perkembangan zaman, tetapi banyak budaya asing yang tidak sesuai dengan
kepribadian bangsa.Budaya lokal juga dapat di sesuaikan dengan perkembangan
zaman, asalkan masih tidak meningalkan cirri khas dari budaya tersebut.
Kemampuan
untuk berkomunikasi sangat penting agar tidak terjadi salah pahaman tentang
budaya yang dianut. Minimnya komunikasi budaya ini sering menimbulkan
perselisihan antarsuku yang akan berdampak turunnya ketahanan budaya bangsa.
Pembelajaran
tentang budaya, harus ditanamkan sejak dini.Namun sekarang ini banyak yang
sudah tidak menganggap penting mempelajari budaya lokal. Padahal melalui
pembelajaran budaya, kita dapat mengetahui pentingnya budaya lokal dalam
membangun budaya bangsa serta bagaiman cara mengadaptasi budaya lokal di tengan
perkembangan zaman.
3. Peluang
Apabila
budaya lokal dapat di jaga dengan baik, Indonesia akan di pandang sebagai
negara yang dapat mempertahankan identitasnya di mata Internasioanal.
Usaha
masyarakat dalam mempertahankan budaya lokal agar dapat memperkokoh budaya
bangsa, juga dapat memperkokoh persatuan.Karena adanya saling menghormati
antara budaya lokal sehingga dapat bersatu menjadi budaya bangsa yang kokoh.
Budaya
lokal Indonesia sering kali menarik perhatian para turis mancanegara. Ini dapat
dijadikan objek wisata yang akan menghasilkan devisa bagi negara. Akan tetapi
hal ini juga harus diwaspadai karena banyaknya aksi pembajakan budaya yang
mungkin terjadi.
Dalam
artikelnya, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning, Riau, Dr
Junaidi SS MHum, mengatakan bahwa multikulturalisme meberikan peluang bagi
kebangkitanetnik dan kudaya lokal Indonesia. Dua pilar yang mendukung pemahaman
ini adalah pendidikan budaya dan komunikasi antar budaya.
4. Tantangan
Perubahan
lingkungan alam dan fisik menjadi tantangan tersendiri bagi suatu negara untuk
mempertahankan budaya lokalnya. Karena seiring perubahan lingkungan alam dan
fisik, pola piker serta pola hidup masyakrkat juga ikt berubah
Meskipun
dipandang banyak memberikan banyak manfaat, kemajuan teknologi ternyata menjadi
salah satu factor yang menyebabkan ditinggalkannya budaya lokal.Misalnya,
sistem sasi (sistem asli masyarakat dalam mengelola sumber daya
kelautan/daratan) dikawasan Maluku dan Irian Jaya. Sistem sasi mengatur tata
cara sertamusim penangkapan iakn di wilayah adatnya, namun hal ini mulai tidak
di lupakan oleh masyarakatnya.
Masuknya
budaya asing menjadi tantangan tersendiri agar budaya lokal tetap terjaga.Dalam
hal ini, peran budaya lokal diperlukan sebagai penyeimbang di tengah
perkembangan zaman.
Perubahan budaya dan arus globalisasi
mengakibatkan beberapa budaya tersingkirkan,Perubahan budaya yang
terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat
tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat
homogen menuju pluralisme nilai dan norma social merupakan salh satu dampak
dari adanya globalisasi. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia
secara mendasar.Komunikasi dan sarana transportasi internasional telah
menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa.Kebudayaan setiap bangsa
cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga
melibatkan manusia secara menyeluruh. Misalnya saja khusus dalam bidang hiburan
massa atau hiburan yang bersifat masal, makna globalisasi itu sudah sedemikian
terasa. Sekarang ini setiap hari kita bisa menyimak tayangan film di tv yang
bermuara dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, dll
melalui stasiun televisi di tanah air. Belum lagi siaran tv internasional yang
bisa ditangkap melalui parabola yang kini makin banyak dimiliki masyarakat
Indonesia. Sementara itu, kesenian-kesenian populer lain yang tersaji melalui
kaset, vcd, dan dvd yang berasal dari manca negara pun makin marak kehadirannya
di tengah-tengah kita. Fakta yang demikian memberikan bukti tentang betapa
negara-negara penguasa teknologi mutakhir telah berhasil memegang kendali dalam
globalisasi budaya khususnya di negara ke tiga. Peristiwa transkultural seperti
itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap keberadaan kesenian kita. Padahal
kesenian tradisional kita merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional
yang perlu dijaga kelestariannya.
Di
saat yang lain dengan teknologi informasi yang semakin canggih seperti saat
ini, kita disuguhi oleh banyak alternatif tawaran hiburan dan informasi yang
lebih beragam, yang mungkin lebih menarik jika dibandingkan dengan kesenian
tradisional kita. Dengan parabola masyarakat bisa menyaksikan berbagai tayangan
hiburan yang bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan bumi. Kondisi
yang demikian mau tidak mau membuat semakin tersisihnya kesenian tradisional
Indonesia dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sarat akan pemaknaan dalam
masyarakat Indonesia. Misalnya saja bentuk-bentuk ekspresi kesenian etnis
Indonesia, baik yang rakyat maupun istana, selalu berkaitan erat dengan
perilaku ritual masyarakat pertanian. Dengan datangnya perubahan sosial yang
hadir sebagai akibat proses industrialisasi dan sistem ekonomi pasar, dan
globalisasi informasi, maka kesenian kita pun mulai bergeser ke arah kesenian
yang berdimensi komersial. Kesenian-kesenian yang bersifat ritual mulai
tersingkir dan kehilangan fungsinya.Sekalipun demikian, bukan berarti semua
kesenian tradisional kita lenyap begitu saja. Ada berbagai kesenian yang masih
menunjukkan eksistensinya, bahkan secara kreatif terus berkembang tanpa harus
tertindas proses modernisasi. Pesatnya laju teknologi informasi atau teknologi
komunikasi telah menjadi sarana difusi budaya yang ampuh, sekaligus juga
alternatif pilihan hiburan yang lebih beragam bagi masyarakat luas.Akibatnya
masyarakat tidak tertarik lagi menikmati berbagai seni pertunjukan tradisional
yang sebelumnya akrab dengan kehidupan mereka.Misalnya saja kesenian
tradisional wayang orang Bharata, yang terdapat di Gedung Wayang Orang Bharata
Jakarta kini tampak sepi seolah-olah tak ada pengunjungnya. Hal ini sangat
disayangkan mengingat wayang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional
Indonesia yang sarat dan kaya akan pesan-pesan moral, dan merupakan salah satu
agen penanaman nilai-nilai moral yang baik, menurut saya. Contoh lainnya adalah
kesenian Ludruk yang sampai pada tahun 1980-an masih berjaya di Jawa Timur
sekarang ini tengah mengalami “mati suri”. Wayang orang dan ludruk merupakan
contoh kecil dari mulai terdepaknya kesenian tradisional akibat
globalisasi.Bisa jadi fenomena demikian tidak hanya dialami oleh kesenian Jawa
tradisional, melainkan juga dalam berbagai ekspresi kesenian tradisional di
berbagai tempat di Indonesia.Sekalipun demikian bukan berarti semua kesenian
tradisional mati begitu saja dengan merebaknya globalisasi.
Di
sisi lain, ada beberapa seni pertunjukan yang tetap eksis tetapi telah
mengalami perubahan fungsi. Ada pula kesenian yang mampu beradaptasi dan
mentransformasikan diri dengan teknologi komunikasi yang telah menyatu dengan
kehidupan masyarakat, misalnya saja kesenian tradisional “Ketoprak” yang
dipopulerkan ke layar kaca oleh kelompok Srimulat.Kenyataan di atas menunjukkan
kesenian ketoprak sesungguhnya memiliki penggemar tersendiri, terutama ketoprak
yang disajikan dalam bentuk siaran televisi, bukan ketoprak panggung.Dari segi
bentuk pementasan atau penyajian, ketoprak termasuk kesenian tradisional yang
telah terbukti mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Selain ketoprak masih
ada kesenian lain yang tetap bertahan dan mampu beradaptasi dengan teknologi
mutakhir yaitu wayang kulit. Beberapa dalang wayang kulit terkenal seperti Ki
Manteb Sudarsono dan Ki Anom Suroto tetap diminati masyarakat, baik itu kaset
rekaman pementasannya, maupun pertunjukan secara langsung. Keberanian stasiun
televisi Indosiar yang sejak beberapa tahun lalu menayangkan wayang kulit
setiap malam minggu cukup sebagai bukti akan besarnya minat masyarakat terhadap
salah satu khasanah kebudayaan nasional kita. Bahkan Museum Nasional pun tetap
mempertahankan eksistensi dari kesenian tradisonal seperti wayang kulit dengan
mengadakan pagelaran wayang kulit tiap beberapa bulan sekali dan pagelaran
musik gamelan tiap satu minggu atau satu bulan sekali yang diadakan di aula
Kertarajasa, Museum Nasional.
v Kaitan Manusia Dan Kebudayaan
Manusia dan kebudayaan merupakan dua hal yang sangat erat terkait
satu sama lain. Manusia di alam dunia ini mememgang peran yang unik, dan dapat
di pandang dari berbagai segi.Dalam ilmu sosial manusia merupakan makhluk yang
ingin memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan sering
disebuthomo economicus (ilmu ekonomi).Manusia merupakan makhluk sosial yang
tidak dapat berdiri sendiri (sosialofi), makhluk yang selalu ingin memiliki
kekuasaan (politik), makhluk yang berbudaya dan lain sebagainya.
Contoh
hubungan manusia dengan kebudayaan :
1. Secara
sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah : manusia sebagai
perilaku kebudayaan, dan kebudayaan merupakan obyek yang dilaksanakan manusia,
tetapi apakah sederhana itu hubungan keduannya? Dalam sosiologi manusia dan
kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun keduannya
berbeda tetapi keduannya merupakan satu kesatuan.Manusia menciptakan
kebudayaan, dan setelah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup
manusia agar sesuai dengannya.Tampak bahwa keduannya akhirnnya merupakan satu
kesatuan.Contoh sederhana yang dapat kita lihat adalah hubungan anatara manusia
dengan peraturan – peraturan kemasyarakatnya.Pada saat awalnya peraturan itu
dibuat oleh manusia, setelah peraturan itu jadi maka yang membuatnya harus
patuh kepada peraturan yang dibuatnya sendiri itu.Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena
kebudayaan itu merupkan perwujudan dari manusia itu sendiri. Apa yang
tercakup dalam satu kebudayaan tidak
akan jauh menyimpang dari kemauaan manusia yang membuatnya. Apabila anusia
melupakan bahwa masyarakat adalah ciptaaan manusia, dia akan menjadi terasing
atau telinasi.
2. Manusia dan kebudayaan atau
manusia dan masyarakat oleh karna itu memiliki hubungan keterkaitan yang erat
satu sama lain. Pada kondisi sekarang ini kita tidak bisa lagi membedakan mana
yang lebih awal muncul manusi atau kebudayaan.Analisa terhadap keberadaan
keduannya harus menyertakan pembatasan masalah dan waktu agar analisis dapat
dilakukan dengan lebih cermat.